PT. HM. SAMPOERNA, Tbk. - Pasuruan Jawa Timur

INHOUSE TRAINING VBA MACRO PROGRAMMING

PT. PLN PERSERO MALUKU / MALUKU UTARA

INHOUSE TRAINING I.S GOVERNANCE

O-Shop, SCTV, Infotech (Jakarta)

PUBLIC TRAINING MAGENTO ADVANCED

PT. ASKRINDO - JAKARTA

PUBLIC TRAINING PMP PMBOK EXAM PREPARATION

Bank Fama International - Bandung

INHOUSE TRAINING CYBERSECURITY AWARENESS PROGRAM

Showing posts with label IT Audit. Show all posts
Showing posts with label IT Audit. Show all posts

Thursday, September 19, 2024

International Certifications from ITGAP (Information & Technology Governance Associate Program)

 

International Certifications from ITGAP (Information & Technology Governance Associate Program), United Kingdom

These globally recognized certifications offer comprehensive frameworks in various IT domains, providing professionals with the knowledge and skills necessary for IT governance, audit, security, data management, privacy, and service management practices.


1. ITCGP (Information & Technology Certified Governance Practitioner)

Focus: IT Governance and Management Job Practice

The ITCGP certification validates expertise in establishing and managing IT governance frameworks that align with business objectives. This credential equips practitioners to ensure strategic alignment, risk management, resource optimization, and performance measurement within an organization.
Key Domains:

  • Strategic Alignment: Ensuring IT supports and drives business objectives.
  • Value Delivery: Achieving desired business outcomes through efficient IT initiatives.
  • Risk Management: Identifying and mitigating IT risks.
  • Resource Management: Optimizing IT resources and personnel.
  • Performance Measurement: Tracking IT performance through established metrics.

2. ITCAP (Information & Technology Certified Audit Practitioner)

Focus: IT Audit Job Practice

The ITCAP certification prepares professionals for conducting IT audits and providing assurance on information systems' integrity, security, and effectiveness. ITCAP holders are proficient in audit planning, execution, and reporting in line with international standards.
Key Domains:

  • Audit Planning & Strategy: Developing and executing audit plans to assess IT environments.
  • Audit Execution: Evaluating controls, processes, and systems for effectiveness.
  • Risk and Control Assessment: Identifying weaknesses and ensuring appropriate risk mitigation strategies.
  • Audit Reporting: Providing insights and recommendations for improvement based on audit findings.

3. ITCSP (Information & Technology Certified Security Practitioner)

Focus: IT Security Job Practice

The ITCSP certification emphasizes comprehensive IT security practices. This credential equips practitioners to design, implement, and manage robust information security programs that protect critical assets and comply with regulatory standards.
Key Domains:

  • Information Security Governance: Developing and maintaining security policies and frameworks.
  • Risk Assessment & Management: Identifying and managing security risks.
  • Incident Management: Responding to and recovering from security breaches.
  • Compliance: Ensuring adherence to regulatory and industry standards.
  • Technical Controls: Implementing firewalls, encryption, and intrusion detection systems.

4. ITCDP (Information & Technology Certified Data Practitioner)

Focus: Data Management Job Practice

The ITCDP certification validates the skills necessary to manage, store, and govern data effectively across organizations. This credential is vital for data professionals focusing on data integrity, quality, and lifecycle management.
Key Domains:

  • Data Governance: Establishing policies and procedures to manage data as a strategic asset.
  • Data Quality Management: Ensuring accuracy, consistency, and reliability of data.
  • Data Architecture: Designing and implementing scalable data systems.
  • Data Security: Protecting data from unauthorized access and breaches.
  • Data Lifecycle Management: Managing data from creation to disposal.

5. ITCPP (Information & Technology Certified Privacy Practitioner)

Focus: Data Privacy Governance and Management Job Practice

The ITCPP certification is designed for professionals responsible for managing data privacy frameworks, ensuring compliance with privacy regulations (e.g., GDPR), and safeguarding personal information.
Key Domains:

  • Privacy Governance: Creating policies and processes for managing data privacy.
  • Compliance with Privacy Regulations: Adhering to GDPR, CCPA, and other data privacy laws.
  • Data Subject Rights: Ensuring transparency and control over personal data usage.
  • Risk Assessment: Identifying privacy risks and mitigating them effectively.
  • Incident Response: Handling data breaches and reporting to authorities.

6. ITCLP (Information & Technology Certified Library Practitioner)

Focus: IT Service Management Job Practice

The ITCLP certification specializes in IT service management, focusing on creating efficient IT services aligned with business needs. It covers frameworks like ITIL and helps practitioners design, deliver, and manage IT services.
Key Domains:

  • Service Strategy & Design: Creating IT services that support business objectives.
  • Service Transition: Ensuring smooth implementation of new services into production environments.
  • Service Operation: Managing daily IT services to ensure performance and availability.
  • Continuous Service Improvement: Optimizing IT services based on feedback and performance metrics.
  • Incident & Problem Management: Minimizing service disruptions and solving root causes.

These certifications from ITGAP.org (UK) provide the essential knowledge and skills needed to excel in today’s IT-driven business world. They empower professionals to align IT with business goals while ensuring security, compliance, and service excellence.

Tuesday, August 1, 2023

IT / IS Audit Syllabus

 

Information System (IS) Audit


DURATION : 4 DAYS

DESCRIPTION :
Pelatihan "Information System Audit" adalah program pelatihan intensif selama 4 hari yang dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang proses audit sistem informasi dan praktik terbaik dalam mengaudit infrastruktur teknologi informasi.

Peserta akan memulai dengan memahami peran dan tanggung jawab seorang IS Auditor dalam melakukan audit sistem informasi. Pelatihan akan membahas prinsip-prinsip dasar audit sistem informasi dan konsep pengelolaan risiko dalam lingkup teknologi informasi.

Selanjutnya, peserta akan mempelajari fase-fase dalam proses audit TI, termasuk perencanaan dan persiapan, pengumpulan bukti dan wawancara, serta evaluasi temuan audit dan penyusunan laporan audit. Peserta akan diajarkan bagaimana mengidentifikasi masalah dan mengembangkan rekomendasi perbaikan yang tepat.

Pelatihan akan melanjutkan dengan mendalami aspek IT Governance and Management, di mana peserta akan memahami struktur organisasi TI dan pengelolaan risiko TI. Peserta akan mengaudit manajemen kinerja TI dan penerapan kerangka kerja COBIT untuk memastikan kepatuhan dengan standar terkait.

Bagian selanjutnya adalah Information Systems Acquisition, di mana peserta akan memahami manajemen proyek dalam konteks akuisisi sistem. Peserta akan mempelajari tentang metode pengembangan sistem, seperti Waterfall dan Agile, serta memahami proses perencanaan, pengendalian, dan komunikasi yang efektif dalam proyek akuisisi sistem.

Pelatihan juga akan mencakup Information Systems Operations, Maintenance, and Service Management, di mana peserta akan diajarkan cara mengaudit operasi dan pemeliharaan sistem informasi, serta mengevaluasi proses manajemen layanan TI dan manajemen perubahan dalam operasional TI.

Materi terakhir adalah Protection of Information Assets, di mana peserta akan memahami konsep keamanan informasi dan pengendalian akses logis dan fisik. Peserta juga akan belajar tentang keamanan jaringan, aplikasi, dan pengendalian enkripsi untuk melindungi aset informasi dengan efektif.

PREREQUISITES :
1. Pendidikan dan Pengalaman:
• Calon peserta sebaiknya memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi informasi, audit, akuntansi, atau disiplin ilmu terkait lainnya.
• Pengalaman kerja di bidang audit, keamanan informasi, atau manajemen teknologi informasi akan menjadi nilai tambah.

2. Pengetahuan Dasar Teknologi Informasi:
• Memiliki pemahaman dasar tentang teknologi informasi, sistem operasi, jaringan, dan pengelolaan basis data.

3. Pengetahuan Bisnis:
• Memahami operasi bisnis dan proses bisnis yang umum digunakan di berbagai industri.

4. Kemampuan Bahasa Inggris:
• Sebagian besar sumber daya dan materi pelatihan dalam bidang teknologi informasi disajikan dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu, calon peserta sebaiknya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk memahami materi pelatihan.

5. Komitmen dan Ketersediaan Waktu:
• Mengikuti pelatihan ini membutuhkan komitmen penuh dari peserta. Peserta sebaiknya memiliki ketersediaan waktu selama 4 hari untuk mengikuti pelatihan secara intensif.

6. Kemauan Belajar:
• Kemauan untuk belajar dan berpartisipasi aktif dalam diskusi, tanya jawab, dan latihan merupakan hal penting untuk memaksimalkan manfaat dari pelatihan.



CONTENT :

Materi: Introduction to IS Audit
1. Memahami peran dan tanggung jawab IS Auditor dalam audit sistem informasi
2. Prinsip-prinsip dasar audit sistem informasi
3. Konsep dasar tentang audit TI dan pengelolaan risiko
4. Peran dan tanggung jawab auditor sistem informasi

Materi: IS Audit Process
1. Fase-fase dalam proses audit TI
2. Perencanaan dan persiapan untuk audit TI
3. Melakukan audit TI: Pengumpulan bukti dan wawancara
4. Evaluasi temuan audit dan penyusunan laporan audit
5. Pengembangan rekomendasi perbaikan dan tindak lanjut audit

Materi: IT Governance and Management
1. Memahami struktur organisasi TI dan pengelolaan risiko TI
2. Prinsip-prinsip manajemen TI dan tata kelola TI
3. Mengaudit manajemen kinerja TI dan penerapan kerangka kerja COBIT
4. Pengendalian dan keamanan sistem informasi
5. Pemantauan dan penilaian kinerja TI

Materi: Information Systems Acquisition 6. Pengenalan Manajemen Proyek dalam Konteks Akuisisi Sistem
1. Proses Manajemen Proyek: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengawasan, dan Penutupan Proyek
2. Penentuan Ruang Lingkup Proyek dan Pengelolaan Perubahan Ruang Lingkup
3. Pengelolaan Rencana Proyek, Sumber Daya, dan Waktu
4. Identifikasi, Analisis, dan Pengendalian Risiko Proyek
5. Manajemen Biaya Proyek dan Pengendalian Anggaran
6. Komunikasi dan Keterlibatan Stakeholder dalam Proyek
7. Manajemen Kualitas dan Jaminan Kualitas dalam Akuisisi Sistem
8. Pengenalan Metode Waterfall dalam Pengembangan Sistem
9. Tahap-tahap dalam Metode Waterfall: Analisis, Desain, Implementasi, Pengujian, dan Pemeliharaan
10. Kelebihan dan Kekurangan Metode Waterfall
11. Pengenalan Metode Agile dalam Pengembangan Sistem
12. Prinsip-prinsip dan Nilai-nilai Agile Manifesto
13. Framework dan Metodologi Agile Populer: Scrum, Kanban, dll.
14. Siklus Hidup Pengembangan dalam Metode Agile


Materi: Information Systems Operations, Maintenance, and Service Management
1. Mengaudit operasi dan pemeliharaan sistem informasi
2. Evaluasi proses manajemen layanan TI (IT Service Management)
3. Manajemen perubahan dalam operasional TI
4. Pengelolaan risiko dalam operasional TI
5. Disaster Recovery Planning (DRP) dan Business Continuity Planning (BCP)

Materi: Protection of Information Assets 6. Memahami keamanan informasi dan konsep penting dalam pengelolaannya
1. Pengendalian akses logis dan fisik
2. Keamanan jaringan dan manajemen identitas
3. Keamanan aplikasi dan database
4. Pengendalian enkripsi dan teknologi keamanan lainnya



Untuk undangan mengajar hubungi :
081-223344-506 
Hery Purnama
Certified IT Trainer

Thursday, April 30, 2015

Proses Audit IT dengan COBIT untuk IT governance yang lebih baik

COBIT yaitu Control Objectives for Information and Related Technology yang merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA), dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992. COBIT juga dapat dikatakan sebagai metode terapan yang menyediakan seperangkat praktek yang dapat diterima pada umumnya karena dapat membantu para eksekutif meningkatkan nilai dan mengurangi resiko. COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan praktek terbaik (best practices) yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya. Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. mengurangi resiko dengan cara yang lebih transparan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan secara umum.

Audit TI merupakan proses pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti untuk menentukan apakah sistem komputer yang digunakan telah dapat melindungi aset milik organisasi, mampu menjaga integritas data, dapat membantu pencapaian tujuan organisasi secara efektif, serta menggunakan sumber daya yang dimiliki secara efisien (Weber, 2000). Audit TI sendiri merupakan gabungan dari berbagai macam ilmu, antara lain: Traditional Audit, Manajemen Sistem Informasi, Sistem Informasi Akuntansi, Ilmu Komputer, dan Behavioral Science.

Pada dasarnya, Audit TI dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu Pengendalian Aplikasi (Application Control) dan Pengendalian Umum (General Control). Tujuan pengendalian umum lebih menjamin integritas data yang terdapat di dalam sistem komputer dan sekaligus meyakinkan integritas program atau aplikasi yang digunakan untuk melakukan pemrosesan data. Sementara, tujuan pengendalian aplikasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa data di-input secara benar ke dalam aplikasi, diproses secara benar, dan terdapat pengendalian yang memadai atas output yang dihasilkan.

Dalam audit terhadap aplikasi, biasanya, pemeriksaan atas pengendalian umum juga dilakukan mengingat pengendalian umum memiliki kontribusi terhadap efektifitas atas pengendalian-pengendalian aplikasi.

Dalam praktiknya, tahapan-tahapan dalam audit TI tidak berbeda dengan audit pada umumnya. Tahapan perencanaan, sebagai suatu pendahuluan, mutlak perlu dilakukan agar auditor mengenal benar objek yang akan diperiksa. Di samping, tentunya, auditor dapat memastikan bahwa qualified resources sudah dimiliki, dalam hal ini aspek SDM yang berpengalaman dan juga referensi praktik-praktik terbaik ( best practices ). Tahapan perencanaan ini akan menghasilkan suatu program audit yang didesain sedemikian rupa, sehingga pelaksanaannya akan berjalan efektif dan efisien, dan dilakukan oleh orang-orang yang kompeten, serta dapat diselesaikan dalam waktu sesuai yang disepakati.

Dalam pelaksanaannya, auditor TI mengumpulkan bukti-bukti yang memadai melalui berbagai teknik termasuk survei, interview, observasi dan review dokumentasi (termasuk review source-code bila diperlukan).

Satu hal yang unik, bukti-bukti audit yang diambil oleh auditor biasanya mencakup pula bukti elektronis (data dalam bentuk file softcopy). Biasanya, auditor TI menerapkan teknik audit berbantuan komputer, disebut juga dengan CAAT (Computer Aided Auditing Technique). Teknik ini digunakan untuk menganalisa data, misalnya saja data transaksi penjualan, pembelian, transaksi aktivitas persediaan, aktivitas nasabah, dan lain-lain.

Sesuai dengan standar auditing ISACA (Information Systems Audit and Control Association), selain melakukan pekerjaan lapangan, auditor juga harus menyusun laporan yang mencakup tujuan pemeriksaan, sifat dan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan. Laporan ini juga harus menyebutkan organisasi yang diperiksa, pihak pengguna laporan yang dituju dan batasan-batasan distribusi laporan. Laporan juga harus memasukkan temuan, kesimpulan, rekomendasi sebagaimana layaknya laporan audit pada umumnya.


Studi Kasus

Sebuah Bank Swasta terkemuka menunjuk tim audit TI Ernst & Young untuk melakukan review atas penerapan sistem Perbankan yang terintegrasi. Pemeriksaan ini terbagi dalam dua fase. Pada fase pertama mencakup kegiatan, sebagai berikut:

1. Manajemen Proyek

Melakukan review atas manajemen proyek untuk memastikan bahwa semua outcome yang diharapkan tertuang dalam rencana proyek. Pada tahapan ini, auditor TI melakukan review atas project charter, sumber daya yang akan digunakan, alokasi penugasan dan analisa tahapan pekerjaan proyek.

2. Desain Proses dan Pengendalian Kontrol Aplikasi

Review mengenai desain pengendalian dalam modul-modul Perbankan tersebut, yaitu pinjaman dan tabungan. Untuk itu dilakukan review atas desain proses dimana auditor mengevaluasi proses, risiko dan pengendalian mulai dari tahapan input, proses maupun output.

3. Desain Infrastruktur

Review ini mencakup analisa efektivitas dan efisiensi desain infrastruktur pendukung (server, workstation, sistem operasi, database dan komunikasi data).

Hasil follow up dijadikan dasar oleh manajemen untuk memulai implementasi sistem Perbankan yang terintegrasi tersebut.

Berdasarkan nilai tambah yang diberikan melalui rekomendasi pada fase pertama, perusahaan menunjuk kembali auditor untuk melakukan review fase kedua secara paralel pada saat implementasi dilakukan, yaitu review terhadap:

  • Migrasi data, pada saat "roll-out" ke cabang-cabang, termasuk kapasitas pemrosesan dan penyimpanannya.
  • Aspek lainnya termasuk persiapan help-desk , contingency dan security .
  • Kesiapan pemakai dalam menggunakan sistem ini, kualitas pelatihan yang diberikan dan dokumentasi pengguna ( user manual )
  • Prosedur-prosedur manajemen perubahan ( change management ) dan testing

Auditor selanjutnya diminta memberikan saran mengenai risiko-risiko yang masih tersisa, sebelum manajemen memutuskan sistem barunya dapat "go-live". Isnaeni Achdiat


Standar (COBIT)

Control Objectives for Information and related Technology (COBIT, saat ini edisi ke-5 enterprise IT Governance) adalah sekumpulan dokumentasi best practices untuk IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen and pengguna ( user ) untuk menjembatani gap antara risiko bisnis, kebutuhan kontrol dan permasalahan-permasalahan teknis.

COBIT dikembangkan oleh IT Governance Institute, yang merupakan bagian dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA). COBIT memberikan arahan ( guidelines ) yang berorientasi pada bisnis, dan karena itu business process owners dan manajer, termasuk juga auditor dan user, diharapkan dapat memanfaatkan guideline ini dengan sebaik-baiknya.

Kerangka kerja COBIT ini terdiri atas beberapa arahan ( guidelines ), yakni:

Control Objectives: Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi ( high-level control objectives ) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu: planning & organization , acquisition & implementation , delivery & support , dan monitoring .

Audit Guidelines: Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci ( detailed control objectives ) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.

Management Guidelines: Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Sejauh mana Anda (TI) harus bergerak, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.
  • Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus?
  • Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors )?
  • Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan?
  • Bagaimana dengan perusahaan lainnya – apa yang mereka lakukan?
  • Bagaimana Anda mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.

The COBIT Framework memasukkan juga hal-hal berikut ini:

  • Maturity Models – Untuk memetakan status maturity proses-proses TI (dalam skala 0 - 5) dibandingkan dengan "the best in the class in the Industry" dan juga International best practices
  • Critical Success Factors (CSFs) – Arahan implementasi bagi manajemen agar dapat melakukan kontrol atas proses TI.
  • Key Goal Indicators (KGIs) – Kinerja proses-proses TI sehubungan dengan business requirements
  • Key Performance Indicators (KPIs) – Kinerja proses-proses TI sehubungan dengan process goals

COBIT dikembangkan sebagai suatu generally applicable and accepted standard for good Information Technology (IT) security and control practices . Istilah " generally applicable and accepted " digunakan secara eksplisit dalam pengertian yang sama seperti Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

Sedang, COBIT's "good practices" mencerminkan konsensus antar para ahli di seluruh dunia. COBIT dapat digunakan sebagai IT Governance tools, dan juga membantu perusahaan mengoptimalkan investasi TI mereka. Hal penting lainnya, COBIT dapat juga dijadikan sebagai acuan atau referensi apabila terjadi suatu kesimpang-siuran dalam penerapan teknologi.

Suatu perencanaan Audit Sistem Informasi berbasis teknologi (audit TI) oleh Internal Auditor, dapat dimulai dengan menentukan area-area yang relevan dan berisiko paling tinggi, melalui analisa atas ke-34 proses tersebut. Sementara untuk kebutuhan penugasan tertentu, misalnya audit atas proyek TI, dapat dimulai dengan memilih proses yang relevan dari proses-proses tersebut.

Lebih lanjut, auditor dapat menggunakan Audit Guidelines sebagai tambahan materi untuk merancang prosedur audit. Singkatnya, COBIT khususnya guidelines dapat dimodifikasi dengan mudah, sesuai dengan industri, kondisi TI di Perusahaan atau organisasi Anda, atau objek khusus di lingkungan TI.

Selain dapat digunakan oleh Auditor, COBIT dapat juga digunakan oleh manajemen sebagai jembatan antara risiko-risiko TI dengan pengendalian yang dibutuhkan (IT risk management) dan juga referensi utama yang sangat membantu dalam penerapan IT Governance di perusahaan. IS


Audit TI: Sebelum atau Sesudah

Seiring dengan makin banyaknya institusi, baik pemerintahan maupun swasta, yang mengandalkan TI untuk mendukung jalannya operasional sehari-hari, maka kesadaran akan perlunya dilakukan review atas pengembangan suatu sistem informasi semakin meningkat.

Risiko-risiko yang mungkin ditimbulkan sebagai akibat dari gagalnya pengembangan suatu sistem informasi, antara lain:

  • Biaya pengembangan sistem melampaui anggaran yang ditetapkan.
  • Sistem tidak dapat diimplementasikan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
  • Sistem yang telah dibangun tidak memenuhi kebutuhan pengguna.
  • Sistem yang dibangun tidak memberikan dampak effisiensi dan nilai ekonomis terhadap jalannya operasi institusi, baik pada masa sekarang maupun masa datang.
  • Sistem yang berjalan tidak menaati perjanjian dengan pihak ketiga atau memenuhi aturan yang berlaku.

Untuk mengantisipasi hal itu, perusahaan menginginkan adanya assurance dari pihak yang berkompeten dan independen mengenai kondisi sistem TI yang akan atau sedang mereka gunakan. Pihak yang paling berkompeten dan memiliki keahlian untuk melakukan review tersebut adalah Auditor Sistem Informasi (Auditor TI).

Pekerjaan auditor TI ini belum banyak dikenal di Indonesia . Di samping itu, jumlah tenaga auditor TI yang menyandang sertifikasi Internasional ( CISA, Certified Information System Auditor ) juga masih sangat terbatas.

Best Practice menyarankan agar dalam proses pengembangan suatu sistem informasi yang signifikan, perlu dilakukan review, baik itu sebelum atau pada saat implementasi ( pre-implementation system ), maupun setelah sistem "live" ( post-implementation system ).

Manfaat Pre-Implementation Review:

  • Institusi dapat mengetahui apakah sistem yang telah dibuat sesuai dengan kebutuhan ataupun memenuhi acceptance criteria.
  • Mengetahui apakah pemakai telah siap menggunakan sistem tersebut.
  • Mengetahui apakah outcome sesuai dengan harapan manajemen.

Manfaat Post-Implementation Review:

  • Institusi mendapat masukan atas risiko-risiko yang masih ada dan saran untuk penanganannya.
  • Masukan-masukan tersebut dimasukkan dalam agenda penyempurnaan sistem, perencanaan strategis dan anggaran pada periode berikutnya.
  • Bahan untuk perencanaan strategis dan rencana anggaran di masa datang.
  • Memberikan reasonable assurance bahwa sistem informasi telah sesuai dengan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan.
  • Membantu memastikan bahwa jejak pemeriksaan (audit trail) telah diaktifkan dan dapat digunakan oleh manajemen, auditor maupun pihak lain yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan.
  • Membantu dalam penilaian apakah initial proposed values telah terealisasi dan saran tindak lanjutnya. IS


HERY PURNAMA , OCA, CEP, ITILF

COBIT Trainer & IT Auditor